SERTIFIKAT TERHALANG SK GUBRI 59
Jaman Sudah Berubah, Masih Relevankah SK Gubernur Tahun 1959..?
Demikian pula halnya keberadaan suatu lahan atau tanah didalam suatu wilayah. Yang oleh perkembangan jaman dan teknologi, suatu lahan atau wilayah bisa berkamuflase berubah mengikuti waktu. Misalnya, beberapa tahun sebelumnya, di suatu daerah terdapat rimbunan hutan rimba, lengkap dengan ragam flora dan fauna nya. Namun, beberapa waktu kemudian daerah itu bisa jadi pemukiman masyarakat.
Bisa jadi dikawasan tersebut, ada kehidupan, geliat ekonomi, bahkan, tak bisa disangkal, sedikit sebanyak uang yang bersumber dari perputaran ekonomi di kawasan itu tanpa kita sadari mungkin menyumbang PAD bagi Kota Dumai, Riau bahkan nasional. Lebih hebatnya lagi, ada pula warga masyarakat kelahiran dari daerah konsesi itu sudah menjabat di beberapa instansi, baik pemerintah, swasta, BUMN dan BUMD, berprestasi di bidang masing-masing, mungkin olahraga, pendidikan dan lain sebagainya.
RIAU
Adalah satu perusahaan khusus bergerak dibidang eksplorasi minyak dan gas bumi didirikan di Indonesia pada tahun 1924 oleh Hindia Belanda. Singkat cerita, perusahaan bernama N.V. Nederlandsche Pacific Petroleum Maatschappij atau NPPM (cikal bakal PT CPI, terakhir jadi PT PHR) itupun mengembangkan perusahaannya di provinsi Riau, yang saat itu masih bagian dari Hindia Belanda. Pengembangan perusahaan dikarenakan disitu ditemukan cadangan minyak dan gas bumi yang cukup besar, khususnya di wilayah Minas dan Duri pada tahun 1944.
Pada tahun 1950, sumur minyak baru pun semakin banyak ditemukan di Duri, Bengkalis, dan Petapahan. Seiring semakin banyaknya sumur minyak yang ditemukan di daerah operasi di Riau, peta daerah operasi/eksplorasi atau kawasan aset pun dibuat. Peta itu disebut Kanggoroo Block, karena bentuknya seperti kangguru.
Kota Dumai (merupakan bagian dari kabupaten Bengkalis saat itu) pun masuk dalam peta tersebut karena merupakan daerah penampung, pelabuhan serta pengapalan Crude Oil. Total luas Kanggoroo Block mencapai ribuan kilometer persegi, tersebar di beberapa kabupaten.
Mengetahui adanya potensi sumber migas yang berlimpah, maka pada tahun 1953, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 1953 tentang Penguasaan Tanah-tanah Negara, guna mendukung iklim bisnis migas tersebut dari segi kejelasan wilayah kerja NV. Caltex Pacific Oil Company (CPOC). Pada peraturan pemerintah ini ditetapkan bahwa penguasaan atas tanah negara dapat diserahkan kepada daerah swatantra untuk menyelenggarakan kepentingan daerahnya. Dan selanjutnya, pada tahun 1959, Gubernur Riau saat itu, Mr. S.M. Amin Nasution menerbitkan SK Gub. No. 091/48/59 tanggal 5 Juni 1959, tentang tanah dalam hak NV. Caltex Pacific Oil Company Distrik Duri dalam pemberian izin untuk pembuatan jalan yang membujur dari Pekanbaru ke Dumai. Jalan tersebut membentang sepanjang lebih kurang 180 Km, termasuk jalan-jalan simpangan untuk keperluan perusahaan dan akan tetap menjadi jalan partikelir kepunyaan NV. Caltex Pacific Oil Company dan lebar tanah khusus untuk keperluan jalan tersebut masing-masing 75 m kiri – kanan jalan dari poros jalan, sehingga lebar seluruhnya menjadi 150 m.
Dan beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 17 November 1959, kembali Gubernur menerbitkan SK Gub. No. 216/48/59. Setahun kemudian Gubernur Kaharuddin Nasution menerbitkan Surat Gubernur berturut-turut, nomor 5509/A/3-386 DTH tanggal 5 September 1960 dan SK Gub. No. 171/25/60 tanggal 17 Oktober 1960.
Tak sampai disitu, kembali Gubernur Riau Arifin Ahmad menerbitkan SK Gub. No. 11980/16-1814 tanggal 28 September 1974, menerangkan, bahwa jalan sepanjang Pekanbaru – Dumai : Clearing Limit I ROW BMN masing-masing 100 M dari as jalan kearah Kiri dan Kanan.
Nah, terakhir, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementrian Keuangan RI menerbitkan surat bernomor S-28/KN/KN.4/2021 tanggal 7 Maret 2021, ditandatangani secara elektronik atas nama Direktur Jenderal Kekayaan Negara Direktur Piutang Negara dan Kekayaan Negara Lain-lain, Lukman Effendi, tentang Permintaan Kementrian Keuangan kepada Kantor Pertanahan (Kantah) Pekanbaru, Siak, Bengkalis dan Kantah Dumai agar Tidak Menerbitkan Hak di atas Tanah BMN Hulu Migas, selain kepada Pemerintah Republik Indonesia c.q. Kementerian Keuangan.
SAAT INI:
Namun, oleh karena ragam faktor, sebahagian lahan aset PHR (dulunya hutan rimba, rawa atau tanah kosong) itupun sudah berubah menjadi pemukiman. Tak sedikit diantara masyarakat yang mendiami lahan itu sudah memiliki sertipikat tanah dari Kantor Pertanahan (Kantah) Kota Dumai. Sebahagian masyarakat yang menguasai lahan itu juga ada yang belum bersertipikat.
Berdasarkan file PDF Peta Areal Konsesi PT. CPI-Dumai yang dipegang Jurnalis, batas kawasan aset PHR (garis imajiner lurus lanjutan dari dalam Kelurahan Bumiayu), adalah 100 Mtr melebar arah ke sebelah Barat dari poros persimpangan empat Jl. Bumiayu — Jl. Raya Bukit Datuk — Jl. Sudirman, memanjang ±2,3 Km (Google Map), hingga batas pagar depan SDN. 013 Jl. Sultan Syarif Kasim. Garis imajiner lurus masih berlanjut ke arah Utara hingga mentok di pesisir pantai.
Untuk sebelah Timurnya, batas garis imajiner lurusnya adalah 100 Mtr melebar ke arah Timur dari poros Jl. Raya Putri Tujuh, sepanjang ±2 Km (Google Map), mulai dari pinggiran Jl. Janur Kuning hingga ke pagar batas kilang Pertamina RU II, samping Jl. Sibayak Jayamukti. Garis imajiner lurus masih berlanjut ke arah Utara hingga ujung Jl. Datuk Laksamana, kemudian berbelok lurus ke arah Timur selanjutnya berbelok lurus lagi ke Timur Laut dan mentok di pesisir pantai.
Nah, lahan yang berada diantara 2 garis batas imajiner tersebut itulah bagian dari aset PT PHR. Didalam lahan itu telah berdiri sejumlah bangunan permanen, seperti ruko, gedung pemerintah, perkantoran, hotel, sekolah, bank, bengkel, restoran dan lain sebagainya.
Dan, sejak terbitnya surat bernomor S-28/KN/KN.4/2021 dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementrian Keuangan, warga masyarakat yang berada didalam kawasan itu yang ingin mengurus sertipikat tanah pun ditolak Kantah Kota Dumai.
Namun fakta lapangan yang dihimpun Jurnalis, ada warga masyarakat yang bukan masuk dalam kawasan Peta Areal Konsesi PT. CPI-Dumai itu, saat ingin mengurus sertipikat ditolak oleh Kantah Kota Dumai. Atau, ada juga tanah masyarakat, yang memang masuk dalam kawasan Peta Areal Konsesi PT. CPI-Dumai itu, sudah memiliki sertipikat tanah. Sementara, warga lainnya, masih di kawasan yang sama, berkas persyaratan yang mereka lengkapi untuk penerbitan sertipikat malah ditolak oleh Kantah Kota Dumai.
“Saat kami ingin mengurus sertipikat tanah di Kantah Dumai, persyaratan kami ditolak mereka. Alasan yang mereka sampaikan ke kami, bahwa garis imajiner batas aset PHR disisi sebelah Barat (garis lanjutan) adalah 100 Mtr di sebelah Barat dari poros simpang empat Jl. Bumiayu — Jl. Raya Bukit Datuk — Jl. Sudirman, ditarik garis imajiner mengikuti panjang jalan Sudirman hingga simpang tiga Jl. Sudirman — Jl. Datuk Laksamana, bahwa lahan didalam kedua garis imajiner batas itu merupakan aset PHR, sehingga Kantah Dumai tidak bisa menerbitkan sertipikat tanah lagi di dalam kawasan itu. Tapi mereka tak bisa menunjukkan peta itu ke kami masyarakat saat kami mempertanyakan gambar peta yang dimaksud mereka”, ungkap beberapa warga Kelurahan Teluk Binjai kepada Jurnalis dengan nada kesal.
Masyarakat kesal dengan sikap Kantah Dumai, karena warga masyarakat lain yang berdiam di dalam kawasan aset PHR itu ada juga yang telah memiliki sertipikat tanah. Lebih kesal lagi, warga masyarakat yang tidak masuk dalam kawasan sesuai file PDF Peta Areal Konsesi PT. CPI-Dumai tersebut juga tak bisa mengurus sertipikat tanah.
Apa yang menjadi dasar Kantah Dumai tidak mau memproses penerbitan seluruh sertipikat tanah di sepanjang Jl. Sudirman, disisi kanan dan kiri? Jelas-jelas kebijakan ini mengakibatkan kerugian dan ketidakpastian bagi masyarakat yang berada di daerah tersebut.
“Kantah Dumai tidak mau terbuka dengan alasan mereka, bahwa Surat Kemenkeu tersebut jelas menyatakan, 100 Mtr sisi kiri dan kanan Jl. Sudirman adalah haknya PT. PHR. Padahal dalam Surat Kemenkeu tersebut tidak jelas dimana daerah yang masuk lahan konsesi. PT PHR pun tidak ada sosialisasi. Kami seperti tak punya tempat yang mau diakui negara”, sambung warga lainnya dengan kesal, menutup pembicaraan.
Dengan adanya polemik ini, yang jadi pertanyaan bersama adalah, apakah masih relevan negara mengambil alih lahan yang telah diberdayakan oleh masyarakat itu selama puluhan tahun? Masih relevankah SK Gubernur No. 091/48/59 tanggal 5 Juni 1959 itu?
(2)
Geger.!! SHM Tak Diakui, Tanah Sepanjang Jalan Utama Perawang di Blokir
Link berita: https://pkupost.com/geger-shm-tak-diakui-tanah-sepanjang-jalan-utama-perawang-di-blokir/
PERAWANG Sertifikat Hal Milik (SHM) tak diakui, ratusan tanah dan bangunan sepanjang jalan utama perawang diblokir.
Ratusan tanah dan bangunan di Kecamatan Tualang terdampak Zona Pengaruh SKK Migas. Permasalahan ini mencuat dari adanya warga pemilik rumah toko (ruko) mendapatkan penolakan dari lembaga keuangan dalam pengajuan pembiayaan yang diajukan karena dianggap berada dalam area khusus.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumbagteng disebut-sebut mengklaim zona selebar 50 meter di kiri dan kanan jalan utama sebagai miliknya, sebuah kebijakan yang diduga kuat tertuang dalam Surat Keputusan (SK) 59 yang baru-baru ini terbit.
SK tersebut keluar pada saat proses pembangunan jalan tol Minas – Dumai. Dimana penerbitan SK tersebut untuk mempertegas status kepemilikan lahan yang digunakan saat pembangunan jalan tol.
SK yang diterbitkan oleh SKK Migas juga memuat penjelasan mengenai asal mula penggunaan lahan untuk akses pembukaan jalan chevron (Pertamina Hulu Rokan saat ini).
Dimana, didalamnya berisi mengenai overlay BMN dengan Interchange Simpang Perawang. Penjelasan mengenai wilayah perawang hingga Minas tertuang dalam Berita acara pada tanggal 30 Agustus 1977 untuk pembuatan jalan dari Perawang Stagging area menuju simpang Perawang – Minas. Serta Surat Gubernur yang bersifat rahasia dengan keterangan, Surat Gub. No. 4598/15/Rhs-576
Dari referensi tersebut dijelaskan bahwa Clearing Limit / ROW BMN masing-masing 50 meter dari as jalan kearah kiri dan kanan.
Melihat perkembangan, lahan yang berada disepanjang jalan utama Perawang, Tualang, saat ini telah menjadi akses utama masyarakat Tualang hingga menuju Minas, bahkan dipinggir sepanjang jalan tersebut telah berdiri bangunan ruko dan dimiliki oleh individu masyarakat.
Klaim lahan yang tiba-tiba ini sontak membuat masyarakat Tualang yang terdampak geram dan kebingungan. Bagaimana mungkin lahan yang selama ini mereka tempati dan bangun menjadi milik pihak lain
“Ini seperti petir di siang bolong! Sudah ruko kami terancam, sekarang tanahnya pun diklaim punya mereka. SK 59 ini isinya apa sebenarnya?” ujar seorang pemilik toko dengan nada tinggi, Kamis (25/4/2025). “Kami sudah puluhan tahun di sini, tidak pernah ada masalah seperti ini.”
Akibatnya, banyak pemilik lahan dan ruko merasakan dampak sangat signifikan. Selain ketidakpastian status kepemilikan, klaim lahan ini juga berpotensi menghambat pembangunan dan aktivitas ekonomi di sepanjang jalan utama Tualang.
Selain itu, ada masyarakat yang begitu dirugikan dengan adanya aturan ini. Dimana ia telah membeli tanah dengan surat SKGR namun pengajuan penerbitan SHM ditolak oleh Notaris dan BPN pada saat proses penerbitan Sertifikat Hak Milik (SHM) karena dianggap tanah tersebut bersada pada aturan SK 59 SKK Migas.
Selain berdampak pada Hak kepemilikan, dampak ekonomi juga menghantui masyarakat yang menjadi pemilik ratusan ruko di Tualang. Hal ini tentunya akan membuat nilai properti (ruko) menjadi dibawah harga pasaran. Karena dinilai status kepemilikan yang tidak jelas.
Saat dikonfirmasi kepada salah seorang pejabat Dinas ATR BPN Siak yang enggan disebutkan namanya, dirinya membenarkan bahwa pihak Pertamina mengeluarkan SK 59. Salah satu keterangannya yakni bahwa 50 meter kiri kanan dari as jalan disepanjang simpang minas menuju Perawang adalah tanah milik pertamina, dan sebagai ASN pihaknya hanya menjalankan instruksi dari pimpinan untuk tidak menerbitkan SHM (Sertifikat Hak Milik) kepada masyarakat yang mengurus.
Syaidina Amsyah, SH selaku Advokat yang mengetahui persoalan ini ketika dikonfirmasi menyampaikan bahwa persoalan ini simalakama antara masyarakat, SKK Migas dan Kantor Pertanahan. Dan memang ini harus segera mendapatkan titik temu solusi yang tepat agar tidak ada yang dirugikan. Tindakan tepat adalah segera diselesaikan, jika tidak maka akan besar kerugian yang diakibatkan oleh masyarakat pemilik lahan dan bangunan yang selama ini ditempati.
“Permasalahan ini sebenarnya ada di pemerintahan melalui SKK Migas, jika masyarakat sudah memiliki SHM, maka Kantor Pertanahan bertanggung jawab karena telah menerbitkan, bagi yang belum dan hanya mendirikan bangunan, maka pemerintah wajib melakukan pemberitahuan. Dan jika ini tidak diselesaikan segera, maka masyarakat pemilik lahan dan bangunan akan dirugikan apabila SKK Migas ingin mengambil lahan tersebut.” Ujarnya
Syaidina menambahkan, bahwa apabila sewaktu-waktu pertamina melalui SKK Migas ingin mengambil alih maka tidak ada ganti untung, justru ganti rugi.
“Tidak ada istilah ganti untung, justru ganti rugi karena SKK Migas sejak awal telah mengklaim kepemilikan dengan bukti yang telah ada sejak lama. Cuma kan ini juga masalah koordinasi saja. Belum lagi kerugian ekonomi lainnya, pasti harga properti disini akan turun, SHM saja tidak diakui apalagi SKGR dan sewa menyewa.” tutupnya
====
(3)
Masuk BMN, Masyarakat di Jalan Sudirman Kota Dumai Minta Tanahnya Dikembalikan
Tanah Masyarakat Tidak Mendapat Ganti Rugi Pembangunan Pipa Minyak Blok Rokan Di Rokan Hilir
Tanah Masyarakat Tidak Mendapat Ganti Rugi Pembangunan Pipa Minyak Blok Rokan di Rokan Hilir
Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah Antara Pemerintah dengan Masyarakat di Sepanjang Jalan Gatot Subroto Kota Dumai
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia (menyangkut SK Gubernur Riau 59)
Hasrizal Bersama Masyarakat Jalan Sudirman Perjuangan Tanah Yang Bermasalah Harus Berani Berjuang
DUMAI,(PAB) ----Dengan terbentuknya panitia perjuangan pembebasan lahan konsesi PT PHR sepanjang jalan Sudirman Kota Dumai, anggota DPRD Dumai Fraksi PAN merasa terpanggil ikut campur.
Kepada puluhan masyarakat yang mengundang nya dalam rapat pertemuan Sabtu (9/8/2025) di gedung pertemuan XII Koto, Jl. Sudirman Jl. Sejahtera Kel. Teluk Binjai, ia menekankan perlunya kesatuan dan keberanian untuk menerobos birokrasi pemerintahan.
"Karena tanah yang saudara-saudara tempati ini ditetapkan berdasarkan SK Gubernur Riau Tahun 1959, ayo kita gugat secara perdata. Ajukan JR ke MK. Siapkan hati. Mari bersatu, tetap solid. Insyaallah perjuangan saudara bisa berhasil", ungkap Hasrizal berapi-api di hadapan puluhan masyarakat yang mengundangnya, disambut tepuk tangan yang hadir.
"Motivasi saya ini kepada saudara bukan untuk tebar pesona atau berbau politik. Saya tegaskan, saya ingin berbuat.!!", tegas Hasrizal, menepis pandangan negatif para pihak.
Terkait keinginan masyarakat untuk hearing, Hasrizal sarankan agar panitia Perjuangan Tanah Sudirman mengajukan secara tertulis ke Sekretariat DPRD Dumai.
"Masyarakat harus berani berjuang.!!", pungkas Hasrizal.
Hal yang sama juga diutarakan Ketua LAMR-Dumai, Datuk Zamhur Eghab. "Betul tuh yang dibilang Pak Dewan tadi (Hasrizal-red). Kami dari LAMR-Dumai mendukung perjuangan bapak ibu sekalian. Karena lawan ini adalah BUMN PT PHR, maka perjuangan ini pasti sampai pusat (Jakarta-red). Jadi, ini akan menyita waktu. Perlu kesabaran bapak ibu sekalian. Pesan saya, persiapkan semua dokumentasi administrasi untuk menggugat perdata PT PHR, SKK Migas, Pemprov, Kemenkeu, sehingga harus kita pastikan data yang bapak ibu pegang benar-benar valid", ucap Datuk Zamhur Eghab, disamping Hasrizal.
Adapun panitia Perjuangan Tanah Sudirman ini, berdasarkan hasil musyawarah warga, mereka mengamanahkan Marsudi Adhy sebagai Ketua, Sekretaris Munir dan Bendahara Oyon Pengacara. Logo surat dan stempel pun telah dipersiapkan panitia.
Bagi pembaca yang ingin mengikuti informasi terkait history tanah pemukiman masyarakat yang masuk dalam lahan aset PT PHR (sekarang) bisa klik di link:
"https://gaperta.id/jaman-sudah-berubah-masih-relevankah-sk-gubernur-tahun-1959/".
=====
(9)
SK Gubernur Riau Diprotes Puluhan Warga Kandis
link berita: https://www.kabarriau.com/berita/2116/sk-gubernur-riau-diprotes-puluhan-warga-kandis
H. Abdul Kasim Dorong Penyelesaian Masalah Tanah Konsesi di Riau
Diklaim BPN Milik Negara, DPRD Riau Siap Perjuangkan Tanah Warga di Jalan Sudirman Dumai
Hasrizal Bersama Masyarakat Jalan Sudirman Perjuangan Tanah Yang Bermasalah Harus Berani Berjuang!!
DUMAI,(PAB) ----Dengan terbentuknya panitia perjuangan pembebasan lahan konsesi PT PHR sepanjang jalan Sudirman Kota Dumai, anggota DPRD Dumai Fraksi PAN merasa terpanggil ikut campur.
Kepada puluhan masyarakat yang mengundang nya dalam rapat pertemuan Sabtu (9/8/2025) di gedung pertemuan XII Koto, Jl. Sudirman Jl. Sejahtera Kel. Teluk Binjai, ia menekankan perlunya kesatuan dan keberanian untuk menerobos birokrasi pemerintahan.
"Karena tanah yang saudara-saudara tempati ini ditetapkan berdasarkan SK Gubernur Riau Tahun 1959, ayo kita gugat secara perdata. Ajukan JR ke MK. Siapkan hati. Mari bersatu, tetap solid. Insyaallah perjuangan saudara bisa berhasil", ungkap Hasrizal berapi-api di hadapan puluhan masyarakat yang mengundangnya, disambut tepuk tangan yang hadir.
"Motivasi saya ini kepada saudara bukan untuk tebar pesona atau berbau politik. Saya tegaskan, saya ingin berbuat.!!", tegas Hasrizal, menepis pandangan negatif para pihak.
Terkait keinginan masyarakat untuk hearing, Hasrizal sarankan agar panitia Perjuangan Tanah Sudirman mengajukan secara tertulis ke Sekretariat DPRD Dumai.
"Masyarakat harus berani berjuang.!!", pungkas Hasrizal.
Hal yang sama juga diutarakan Ketua LAMR-Dumai, Datuk Zamhur Eghab. "Betul tuh yang dibilang Pak Dewan tadi (Hasrizal-red). Kami dari LAMR-Dumai mendukung perjuangan bapak ibu sekalian. Karena lawan ini adalah BUMN PT PHR, maka perjuangan ini pasti sampai pusat (Jakarta-red). Jadi, ini akan menyita waktu. Perlu kesabaran bapak ibu sekalian. Pesan saya, persiapkan semua dokumentasi administrasi untuk menggugat perdata PT PHR, SKK Migas, Pemprov, Kemenkeu, sehingga harus kita pastikan data yang bapak ibu pegang benar-benar valid", ucap Datuk Zamhur Eghab, disamping Hasrizal.
Adapun panitia Perjuangan Tanah Sudirman ini, berdasarkan hasil musyawarah warga, mereka mengamanahkan Marsudi Adhy sebagai Ketua, Sekretaris Munir dan Bendahara Oyon Pengacara. Logo surat dan stempel pun telah dipersiapkan panitia.
Tanah Warga Dibekukan karena Masuk BMN, Forum Pejuang Tanah Sudirman Datangi DPRD Riau
Datangi DPRD Riau, Ratusan Warga Dumai Tuntut Hak Lahan yang Diklaim Negara
Protes yang disampaikan bukan masalah besarnya harga per meter lahan yang akan diganti, melainkan menyusutnya ukuran tanah. Bahkan ada tanah yang dinyatakan gugur alias tidak diganti rugi. Protes warga itu mencuat saat musyawarah bentuk ganti rugi pengadaan Tanah Jalan Tol Pekanbaru-,Kandis-Dumai di aula Kantor Camat Minas, Senin (23/01/2017).
Menurut salah seorang warga Minas, Apuak, yang diprotes warga itu bukan nilai ganti rugi tapi berkurangnya ukuran lahan atau tanah yang diklaim PT Chevron berada di wilayah konsensi perusahaan. Dan itu diperkuat dengan Surat Keputusan Gubernur Riau.nomor 091/48/59 tanggal 5 Juni 1959 tentang clearing limit/ROW BMN masing-masing 100 meter dari as jalan ke arah kiri dan kanan.
“Kami mempertanyakan ukuran tanah kami yang akan dibayar tidak sesuai patok terpasang. Dari ukuran tanah 1 hektare yang seharusnya diganti, setelah adanya protes dari Chevron ukuran tanah yang diganti menjadi ,125 meter. Itu ukuran yang tidak kami terima,” ujar Apuak kepada nadariau.com.
Pada kesempatan yang sama, Warga Minas Jaya yang berdomisi di Simpang Perawang, Zulkarnain mengatakan, kalau seandainya Chevron hanya mengambil patok yang ditentukan maka di tanahnya itu pas di DMJ nya saja.
”Kalau DMJ nya saja yang diambil, bagi kami itu tidak masalah. Hanya saja, kalau tanah kami tidak diganti tapi suratnya diambil, jelas kami tidak mau. Intinya kami akan ikuti proses yang ada,” tegas Zulkarnain yang mengaku berprofesi sebagai advokat ini.
Kalau informasi dari pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN), Romy, sebut Zulkarnain, kalau sampai di patok itu tidak masalah. Tapi ini kan DMJ nya yang terkena.
”Artinya tidak semuanya kena tanah kami,” jelasnya seraya mengaku belum mengetahui berapa pasti nilai ganti rugi yang akan diterima warga pemilik tanah yang terkena Jalan Tol Pekanbaru-Kandis-Dumai.
”Baru hari ini (kemarin, red) kami bisa mengetahui nilai nominalnya. Soalnya itu sensitif dan itu hanya masing-masing pemilik tanah yang tahu ,” sebut Zulkarnain.
Seandainya nilai nominal ganti rugi tidak sesuai dengan harga sebelumnya, apa yang akan dilakukan? Zulkarnain mengatakan, warga sudah sepakat dengan tanah yang katanya itu milik Chevron akan rembuk bersama untuk mengikuti proses selanjutnya. Soalnya warga sudah memiliki surat SKGR dan sertifikat tanah.
”Dengan adanya surat yang dikeluarkan pemerintah, kami berharap pemerintah agar berpihak kepada masyarakat. Masalahnya ini sudah dikeluarkan suratnya. Kecuali tanah yang memang dibilang Chevron dari dulu itu milik Chevron, itu tidak masalah. Ini kami beli, bukan ngambil. Berbeda dengan warga yang berbeda di simpang itu, mereka main ngambil saja. Tapi kami tidak, kami beli dengan orangnya, ada orangnya. Pihak pertama, pihak kedua dikeluarkanya surat SKGR oleh kecamatan,” ulas Zulkarnain.
Lantas seberapa luas tanah yang terkena Jalan Tol Pekanbaru-Kandis, Dumai? Zulkarnain menyebutkan, tanahnya satu surat 17,8x 46 meter. Cuma patoknya di depan saja. Jadi tidak dapat semuanya.
”Itu masih daerah DMJ. Paling kalau kita ukur dari bibir aspal, sekitar 3 meter. Kalau patoknya tidak dirubah-rubah lagi. Memang kemarin bangunan juga akan diambil semua. Kebetulan kami ada punya rumah, ada kedai harian 2 tingkat dan variasi 2 tingkat, jadi dihitung 4 unit rumah. mengapa diambil semuanya, katanya rumah kami saling berkaitan. Namun rumah kami itu diganti,” katanya.
==
(17)
Ribuan Warga Terancam Kehilangan Lahan, BPN Diminta Jelaskan Status Tanah di Sepanjang Jalan Sudirman Dumai
Kota Dumai (Riau)- Ribuan warga di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Kota Dumai, dilanda keresahan setelah muncul klaim bahwa lahan sejauh 100 meter dari as jalan, baik di sisi kiri maupun kanan, merupakan aset milik negara yang sebelumnya dikelola PT Chevron Pacific Indonesia dan kini beralih ke PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Keresahan ini merujuk pada surat Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Nomor S-28/KN.4/2021 yang berisi permintaan agar tidak menerbitkan hak di atas tanah Barang Milik Negara (BMN) hulu migas.
Sejumlah warga mempertanyakan dasar Badan Pertanahan Nasional (BPN) menjadikan Jalan Jenderal Sudirman sebagai Right of Way (ROW) BMN yang terkena aturan 100 meter kiri dan kanan dari as jalan.
Dedi Rusdi, ST, salah seorang warga Kelurahan Teluk Binjai yang memiliki bangunan di kawasan tersebut, mengungkapkan kebingungannya.
“Kalau acuannya SK Gubernur yang terakhir mengalami perubahan pada 1974, yaitu SK Gub No. 11980/16-1814 tanggal 28 September 1974, mengapa BPN masih mengeluarkan Sertifikat Hak Milik (SHM) kepada masyarakat di Jalan Jenderal Sudirman?” ujarnya.
Warga pun mempertanyakan pihak mana yang harus dimintai keadilan, sekaligus siapa yang bertanggung jawab atas situasi yang memicu keresahan tersebut.
Diketahui, polemik ini telah memantik terbentuknya sebuah kelompok perjuangan bernama Forum Pejuang Tanah Sudirman. Forum ini berencana melakukan audiensi (hearing) dengan DPRD Kota Dumai dalam waktu dekat untuk menyuarakan aspirasi warga.
Seorang warga lainnya menegaskan keseriusan perjuangan mereka.
“Kita tidak akan diam, kita akan terus berjuang bahkan melakukan aksi besar,” tegasnya.
Situasi ini masih terus berkembang, dan warga berharap pemerintah dapat memberikan kepastian hukum yang jelas demi menghindari konflik berkepanjangan.***
Pagi Tadi Warga Kandis Gelar Aksi Damai Terkait Polemik SK Gubri Tahun 1959
KARIMUNTODAY.COM, SIAK – Ratusan massa yang berdomisili di lahan yang akan dijadikan gerbang pintu tol Pekanbaru Dumai pada Kamis, (16/01/2020) pagi tadi mereka menggelar aksi damai di halaman Gedung Kecamatan Kandis.
Aksi ini didasari dengan beredarnya SK Gubernur tahun 1959, dimana atas dasar SK ini terkuak bahwa lahan 100 Meter kanan dan kiri dari Aspal jalan raya Pekanbaru Dumai adalah aset PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) yang mengakibatkan pemilik lahan diwilayah tersebut tidak akan menerima ganti rugi alias lahan dibayar Rp 0,-.
Padahal saat ini, sudah tidak terhitung lagi jumlah masyarakat yang menempati lahan dimaksud bahkan memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh BPN Kabupaten Siak, Riau.
Aksi massa yang tergabung dalam IKBR-K (Ikatan Keluarga Batak Riau Kandis), itu sendiri berjalan kondusif. Setelah Hotman Manurung selaku Ketua IKBR-K, Ibu Surbakti Medan Ribka, Bapak Agus Sembiring, Ibu Riska Purba selaku orator menyampaikan aspirasi mereka.
Perwakilan massa berkisar 15 orang dipanggil masuk keruangan Camat Kandis untuk menggelar koordinasi bersama Upika. Tampak pula hadir ditengah kerumunan massa, Anggota DPRD Kabupaten Siak, Hendri Pangaribuan SH dari Fraksi PDI Perjuangan, Camat Kandis, Said Irwan SE beserta jajaran, Kapolsek Kandis, Kompol Indra Rusdi SH, Danramil Kandis, Kapten Inf Bukti Sitepu, Personel Polsek Kandis dan Anggota Danramil 11/PWK Kandis, Pak Bambang selaku Pimpinan pelaksana Proyek Jalan Tol Pekanbaru Dumai serta tidak ketinggalan massa yang berdomisili 100 Meter kanan kiri jalan raya Kecamatan Kandis.
“Atas adanya SK Gubernur Riau tahun 59, sudah sangat merugikan Masyarakat. Akibat dari SK Gubernur tersebut menyebabkan lumpuhnya perekonomian Masyarakat diseluruh jalan lintas Pekanbaru Dumai, peningkatan surat tanah atas alas Hak atau SHM masyarakat tidak bisa lagi bahkan SHM masyarakat tidak bisa menjadi agunan di Bank. Lebih mirisnya lagi, terkait pengadaan lahan jalan tol Pekanbaru Dumai tidak ada ganti rugi untuk warga pemilik lahan yang berada di 100 Meter kanan kiri aspal jalan raya,” ungkap Riska Purba selaku salah satu orator aksi.
Perwakilan massa yang hadir saat itu mereka mempertanyakan dan menuntut agar pemerintah Propinsi Riau melalui Pemerintah Kabupaten Siak meninjau kembali tentang SK Gubernur Riau yang dimaksud yaitu SK Gubernur nomor 091/48/59 tanggal 5 Juni 1959, SK Gubernur nomor 216/48/59 tanggal 17 November 1959 dan Surat Gubernur nomor 5509/A/3-386 DTH tanggal 5 September 1960.
Setelah usai menyampaikan aspirasi dan dilanjutkan dengan mediasi di dalam ruangan, Camat Kandis, Said Irwan SE menjelaskan bahwa terkait polemik yang ada bahwa Pemerintahan Kecamatan sudah berupaya agar Masyarakat Kecamatan Kandis mendapatkan keadilan.
“Pihak Kecamatan sebenarnya telah menyurati Bupati Siak perihal agar Gubernur Riau meninjau kembali tentang SK tersebut bahkan Pemerintah Kabupaten Siak telah menyurati Gubernur Riau sesuai pengajuan surat dari pihak Kecamatan juga sesuai permintaan dan tuntutan Masyarakat sebelumnya dan kini pengajuan surat tersebut sedang dievaluasi oleh pihak Provinsi terutama Gubernur Riau,” ujar Camat Said.
Aksi massa membubarkan diri pada siang hari dengan tertib setelah para perwakilan massa yang dipanggil masuk mediasi diruangan Camat Kandis, menyampaikan hasil mediasi didepan ratusan massa yang hadir.(*)
==
(18)
Ribuan Aset Tanah di Jalan Pekanbaru-Dumai Tidak Diakui Bank, Kok Bisa?
Link berita: https://sumatra.bisnis.com/read/20220218/534/1502119/ribuan-aset-tanah-di-jalan-pekanbaru-dumai-tidak-diakui-bank-kok-bisa
Bisnis.com, PEKANBARU--Pemerintah Provinsi Riau bersama sejumlah pihak terkait membahas kelanjutan nasib aset tanah masyarakat yang ada di sepanjang jalan nasional Pekanbaru - Dumai karena saat ini tidak diakui oleh bank.
Gubernur Riau Syamsuar menjelaskan masalah aset Barang Milik Negara (BMN) hulu migas di sepanjang jalan nasional itu berkaitan dengan aset tanah masyarakat yang sudah mengantongi sertifikat dan surat keterangan ganti rugi.
"Masalah ini menyebabkan masyarakat tidak dapat memanfaatkan sertifikat asetnya seperti mengajukan pinjaman ke bank dan lainnya. Jadi kami mohon kepada pemerintah pusat untuk dapat menyelesaikan permasalahan ini karena berkaitan langsung dengan hak masyarakat," ujarnya pada Jumat (18/2/2022).
Dari data BPN Provinsi Riau, saat ini ada sebanyak 2.200 lebih sertifikat hak milik dan hak guna bangunan yang telah dikeluarkan, di poros jalan Pekanbaru -Dumai sepanjang 180 kilometer.
Menurutnya, permasalahan ini memang telah menjadi perhatian Kementerian Koordinator Perekonomian. Dia mengatakan pemerintah pusat sudah menurunkan tim peninjauan ke lapangan dan melihat aset BMN tersebut.
Dia berharap dengan upaya itu, pemerintah pusat mengetahui langsung bagaimana kondisi lapangan dimana sudah banyak berdiri bangunan masyarakat dengan usia berpuluh tahun.
"Harapan kami pusat mendapatkan gambaran kondisi lapangan dan bisa memetakan tahapan penyelesaiannya. Karena memang seperti itulah yang dirasakan masyarakat," ujarnya.
Syamsuar meminta agar penyelesaian yang disepakati nantinya, tidak merugikan salah satu pihak dan hak masyarakat yang sudah ada bisa diakui oleh pemerintah. (*)
===
(19)
Warga Resah, Lahan di Sepanjang Jalan Sudirman Dumai Tak Bisa Diterbitkan Sertifikat & IMB
Dumai, CyberLine.id — Masyarakat yang bermukim di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Kota Dumai, kini tengah dilanda keresahan. Tiba-tiba saja, lahan mereka yang telah ditempati sejak puluhan tahun silam, kini tidak dapat lagi diterbitkan hak atas tanahnya. Hal ini menyusul adanya kebijakan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN).
Melalui surat bernomor S-28/KN/KN.4/2021 tertanggal 7 Mei 2021, DJKN menginstruksikan agar tidak menerbitkan hak atas tanah yang dikategorikan sebagai Barang Milik Negara (BMN) Hulu Migas pada wilayah kerja PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), khususnya dalam radius 100 meter dari as jalan di kiri dan kanan.
Padahal, wilayah yang terdampak surat tersebut tidak hanya permukiman warga biasa, namun juga bangunan-bangunan vital seperti hotel, kantor bank pemerintah dan swasta, rumah sakit swasta, kantor kepolisian, ruko bertingkat, hingga gedung pemerintahan.
“Kalau diikuti radius 100 meter kiri kanan dari jalan Sudirman, maka sebagian besar bangunan penting di kota ini ikut terdampak. Ini sangat membingungkan dan meresahkan,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Merespons hal tersebut, sejumlah warga terdampak membentuk kelompok dan melakukan mediasi dengan Lurah Teluk Binjai, Jum’at (1/8). Dalam pertemuan tersebut, hadir pula beberapa Ketua RT dari wilayah terdampak.
Saat dikonfirmasi wartawan, Lurah Teluk Binjai Idris Sardi, S.H. mengatakan bahwa pihak kelurahan hanya memfasilitasi tempat untuk pertemuan warga.
“Itu bukan kewenangan saya, Bang. Kita hanya menyediakan tempat untuk warga berdiskusi. Tapi kita tetap akan menyampaikan laporan ini ke pihak kecamatan,” ujar Idris.
Sementara itu, salah seorang warga mengungkapkan kekecewaannya terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
“Luar biasa pemerintah saat ini, bukan menyejahterakan, malah menyusahkan rakyatnya. Saya sudah tinggal di atas tanah itu sejak setengah abad lalu. Tiba-tiba sekarang dibuat jantungan begini. Pemerintah makin ke sini banyak trik soal tanah dan soal rekening. Nggak ada empati pada rakyat,” ujarnya geram.
Warga berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat segera memberikan solusi dan kejelasan hukum terkait status tanah yang mereka tempati agar tidak menimbulkan konflik dan ketidakpastian berkepanjangan.